LAZIS TASYRIF - Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah dan Wakaf (ZISWAF) Semarang: HIKMAH
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label HIKMAH. Show all posts

MENGGENGGAM DUNIA PENUH KEBAHAGIAAN

Tasyrif, Lazis Tasyrif Semarang,  Lazis Semarang,  Lembaga ZIS Semarang,  Sedekah online,  Zakat online,  lazis jateng,  pengertian lazis, program lazis, Sedekah, zakat,  infaq, wakaf, santunan yatim ,  dhu’afa ,  sosial ,  baksos,
Dunia penuh keindahan, dunia diciptakan Allah dengan segala keindahannya. Namun ketika keindahan tersebut ingin cepat tereguk, sesungguhnya bukan keindahan sejati yang tereguk, melainkan kepalsuan.

Memang dunia itu penuh keindahan sehingga menarik minat orang banyak untuk menggenggamnya. Kekuasaan, popularitas dan uang adalah bagian dari tampilan wajah dunia yang menggoda.

Layaknya air gula yang menenggelamkan semut-semut, dunia pun kerap menenggelamkan orang-orang yang hendak menjamahnya. Semua itu terjadi apabila kilauan indahnya kehidupan sampai menutupi pandangan kita terhadap keberadaan Dzat Pemilik Dunia, Allah.

Oleh karena itu kita akan menemukan cerita-cerita yang pahit dari pengejar dunia itu, mulai dari bangkrutnya seorang eksekutif top yang sempat melesat bagai meteor atau cerita tentang terlemparnya seorang dari kehidupan normal setelah melakukan pencurian, korupsi, perizinan, aborsi dan sebagainya.

Ikhtiar untuk mendapatkan dunia secara cepat bukanlah sesuatu yang terlarang, kalau memang ada yang cara yang cepat kenapa tidak? Yang penting hati-hati, pastikan agar cara tersebut tidak mengabaikan kesejatian kita sebagai seorang hamba dan mengabaikan aturan-aturan Ilahi.

Selebihnya, yang lebih sering terjadi adalah tidak adanya kehati-hatian dan kewaspadaan akibatnya yang terjadi adalah kebinasaan bagi siapa saja yang menempuh jalan serba cepat. Maka biasa saja lah, pelan-pelan mau kemana sih kita? Sekaya-kayanya manusia toh baju yang dipakai tetap satu, sekaya-kayanya manusia super kaya toh pada akhirnya ia meninggalkan kekayaannya.

Satu hal yang mudah-mudahan dapat menyelamatkan kita, ada baiknya terima dulu apa yang kita miliki sebagai keindahan dunia, niscaya kita akan merasa menjadi pemilik dunia dan bahagia.

Pilihan terakhir ada di tangan kita, sabar dalam menggapai semua hal, kemudian selamat atau lupakan semua peraturan moral dan etika hingga kemudian kita tersadarkan oleh kesengsaraan yang tampak di depan mata.

Ingin dunia? Kejar yang benar!
Jika tidak bukan dunia yang terkejar, melainkan kepahitan yang didapat.

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya diterima ―QS. 17:19

TEH MANIS: MERAIH DUNIA DENGAN KESABARAN

Tasyrif, Lazis Tasyrif Semarang,  Lazis Semarang,  Lembaga ZIS Semarang,  Sedekah online,  Zakat online,  lazis jateng,  pengertian lazis, program lazis, Sedekah, zakat,  infaq, wakaf, santunan yatim ,  dhu’afa ,  sosial ,  baksos,
Gula itu selalu manis. Pasti! Manisnya gula selalu mengundang semut untuk mendekat dan menjamahnya ada pepatah yang mengatakan, ada gula ada semut.

Keberadaan gula dengan semut menjadi identik. Gula yang manis, apabila tidak terbungkus rapi, mudah dijamah semut. Wajar kiranya jika kita berpesan kepada 'orang manis' untuk berhati-hati agar tidak hilang kemanisannya.
Layaknya garam, gula juga menjadi teman sehari-hari manusia. Seakan tiada hari tanpa gula dan garam.

Begitulah gula, iya hanyalah satu dari sekian ayat keberadaan Allah Tuhan Yang Agung. Lihatlah, bagaimana gula bisa saling melengkapi keindahan rasa, berpacu dengan garam dan bumbu-bumbu dapur lainnya, 'berkorban' demi apa yang dinamakan kepuasan rasa manusia.

Lukman suka sekali minum teh manis. Menurut penelitian yang pernah didengar Lukman, sendok kecil gula yang dicampur dengan teh manis akan mampu merangsang badan hingga mencapai kesegaran. Apabila diminum pada pagi hari, teh akan mengawali kecerahan, dan apabila diminum pada sore hari, teh manis akan mengembalikan kesegaran setelah kepenatan bekerja.

Dunia itu ibarat gula: Manis. Iya akan mengundang Siapa saja yang ingin mereguknya. Hanya dengan jalan kesabaran dunia terasa indah.

"Dan tiadalah ia dianugerahkan melainkan kepada orang yang sabar dan tiadalah ia dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan besar." (QS. Fushilat, 41:35)

"Dik, Dik, teh manisnya mana?” tanya Lukman kepada istrinya, Maimunah.
”Tehnya sudah dari tadi saya taruh di meja”
"Wah, kok nggak bilang dari tadi"
"Saya udah bilang, aja yang terlalu asyik baca koran!" Lukman beringsut, melangkah ke meja.
"Waduh!" lukman berteriak kecil. Iya tertegun.
"Ada apa?" tanya Maimunah kaget sambil melangkah mendekat.
"Disemutin!"

Teh tersebut dikerubungi semut. Hal biasa. Setelah merefleksikan ungkapan 'di mana ada gula di situ ada semut' rupanya semut-semut itu mendahului Lukman menyeruput teh manis di atas meja.

"Ya sudah" Lukman mengalah. Iya meminta sang istri membuatkan teh manis yang baru.

Satu hal yang membuat Lukman tertegun adalah ketika ia pandangi kerumunan semut itu. Semut yang 'mendahului' Lukman mencicipi teh manis dan semuanya mati. Tidak ada yang tersisa. Benar-benar tidak ada yang tersisa!.

Ada yang mati di pinggir cangkir, ada yang mati di pinggir tatakan cangkirnya, dan yang terbanyak mati di tengah cangkir. Mengambang di atas air teh manis tersebut.

Tiba-tiba ia merasa ada getaran hikmah yang hadir di hatinya. Kesia-siaan. Itulah hikmah yang tersembunyi dari pemandangan pagi itu. Bagi para semut itu, mendapatkan makanan, alih-alih merasakan nikmatnya gula, malah kematian yang didapat.

Semut mau mendatangi teh manis karena 'dengan tak tertulis' dari manisnya gula. Mereka memandangnya sebagai sebuah kenikmatan dan makanan bagi kehidupan mereka, mengabaikan pertimbangan akal.

Hukuman pun merasakan adanya petikan hikmah yang mampu menghujam relung-relung hatinya. Iya sampai pada satu simpulan bahwa demikian pula lah nasib yang akan dialami oleh orang-orang yang mengejar keindahan dunia tanpa mempertimbangkan kehadiran akal dan menafikan keberadaan Allah sebagai pengawasnya.

Apalagi kalau mengejarnya dilakukan secara instan dengan cara memotong kompas. Melaju dengan cepat tanpa perhitungan yang matang, akan semakin lekas pula terampas.

Semoga Allah memberikan kenikmatan hidup kita dengan ridho dan berkahnya. Amin.

Ustadz Yusuf Mansur (Kaya Hati, Kaya Rasa, Kaya Raya)
Photo by Thomas Kinto on Unsplash

MEMBANGUN KERAJAAN HATI

Lazis Tasyrif Semarang,  Lazis Semarang,  Lembaga ZIS Semarang,  Sedekah online,  Zakat online,  lazis jateng,  pengertian lazis, program lazis, Sedekah, zakat,  infaq, wakaf, santunan yatim ,  dhu’afa ,  sosial ,  baksos,
Di kehidupan sehari-hari sangat mudah kita menemukan orang berpunya harta, namun terus mengejar kekayaan. Sering juga kita mengetahui orang yang berkedudukan tinggi, tapi masih terus mengejar pangkat yang lebih tinggi lagi.


Mereka dan boleh jadi termasuk kita tak akan pernah terpuaskan dalam menggapai nafsu dunia. Selalu saja merasa kurang dan kurang.

Hal demikian akan menjadikan hidup terasa senang namun jauh dari rasa kebahagiaan dan keberkahan.

Marilah membangun kerajaan hati sebelum membangun kemewahan dunia. Hilangkan sifat tamak terhadap apa yang ada dalam genggaman kita. Selalu mencari kelebihan untuk disyukuri, bukan lagi sebaliknya selalu mencari kekurangan. 

Dengan demikian kita bisa berbuat banyak atas hak yang kita miliki. Hati menjadi tenang dan damai.

Dengan bersyukur kita akan menikmati dan melakukan semua yang diperintahkan Allah. Peduli menjadikan tingkat kepatuhan terhadap perintah dan menjauhi larangan Allah. Inilah yang menjadi tolak ukur Allah untuk membukakan pintu Rahmat kepada kita.

Kesuksesan yang hakiki adalah tercapainya ketenangan, kebahagiaan, keamanan dan kesejahteraan. Ukurannya menjadi sangat relatif. Ukuran yang dimaksud tidak lagi menjadi ukuran dunia atau ukuran sebuah materi belaka. Berkah melampaui ukuran material dunia.

Para ulama mengatakan hakikat hidup sebenarnya adalah kedekatan dan kecintaan kita kepada Sang Pencipta. Jika sudah dekat dengan Allah, cinta kepadaNya menjadikan dunia menjadi sangat kecil dan tiada artinya.

Dikisahkan Umar Bin Khattab pernah menginfakkan kebun kurma yang dimilikinya. Beliau menganggap kebun kurma dan kicauan burung yang ada di dalamnya itu telah menyita waktunya untuk salat berjama'ah.

Sifat Umar Bin Khattab telah sampai pada tahapan menghargai Allah lebih besar dari harga dunia. Bagi beliau dunia bukan lagi ukurannya, dunia menjadi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Allah dan nikmat yang diberikan.

Bahkan seorang Umar Bin Khattab menganggap satu kali sholat berjamaah jauh lebih besar daripada harga dunia yang beliau gambarkan dengan luasnya kebun kurma.

Mari kita instropeksi, begitu mudahnya kita meninggalkan salat berjamaah gara-gara urusan dunia. Kita tega membelakangi Allah bahkan bermaksiat dengan rezekinya. Kitapun rela mengabaikan sisi-sisi kemanusiaan yang telah dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dengan kehormatan, kemuliaan dan harga diri kita gadaikan. Semua demi kekayaan dunia. Kita masih menghiasi pandangan kita dengan dunia.

Mari kita bangun hati untuk menjadi lebih bahagia dengan berbagi kepada sesama. Semoga berkah di dunia dan akhirat nanti. Amin.

Photo by Eric Witsoe an Bheatha on Unsplash

KONSULTASI HUBUNGI KAMI